Kamis, 22 Februari 2018

Ibu, Jiwaku Pilu


Desah nadiku adalah kerinduan, ketika detik memutar rasa tentang ribuan kilometer dalam dekapan.
Ibunda.......
Fikirku fatamorgana dalam jeruji besi yang menembus bayang semu. aku merana dijerat rindu, ketika kau ajari aku melewati hujan lebat di depan rumah. Lembut kasih sayang suaramu menyapa pundakku, khawatir anak lanangmu rapuh dalam pilu, yang esok tak bisa berjalan melewati pegunungan sekedar mengecap bangku sekolah. Itulah, desa kita menyimpan sejuta aksara kenangan, kemanapun ragaku berada, jiwaku selalu terpaut padanya.
Ibundaku, umurmu telah melampaui muda.Tulangmu lemah dikikis waktu, juga ayahanda membuat tangisku pecah dan mengalir disela hujan. Jerih langkah demi pujaanmu, juga lelah kau tak peduli demiku.
Ibunda, ayahanda, Aku menepi dipinggiran waktu yang tak bersahabat, menguras dahagaku pada kekuatan cita dan asa yang kupikul. Dan pasir ini, biarlah aku menggenggamnya sendiri, biarkan aku belajar melewati semua duri ini sendirian, doakan saja daku mampu bertahan, semoga Tuhan merestui jalan citaku.
O iya ibunda, aku menyuratimu ditengah terpaan gerimis metropolitan. Aku rindu waktu itu, ketika kau dekapku saat butiran bening membuat irama di genteng rumah. Aku syahdu dalam pelukanmu. Irama alami yang tercipta dari tetesan langit menunjukkan kuasa Tuhan, TAWAKAL KEPADA ALLAH, Dia Akan beri beribu keajaiban.....
Salam dari bungsumu yang sedang merindu.....

(Muhajir)

Rabu, 21 Februari 2018

Kemarilah dan Dekap Daku Dalam Maafmu



Dulu, ramai penduduk Thaif melempar caci dan bebatuan tajam, karenanya darah mengalir dari tubuh Muhammad. “Muhammad, inginkah engkau jika aku timpahkan gunung itu ke penduduk yang telah mencelamu?” kata malaikat gunung saat datang menghibur sang teladan sembari memberinya pilihan.
Namun, begitulah jiwa besar yang dimiliki oleh manusia paling mulia itu, “Tidak! Aku berharap dari sulbi mereka lahir orang yang beriman kepada Allah Swt.”
Hanya orang berjiwa besar yang mampu melakukan itu, memaafkan orang yang telah melukai jiwa dan raganya. Sahabat, tahukah kau akhirnya? Di kemudian hari semua pendudik Thaif beriman kepada Allah Swt. itulah buah dari kebesaran jiwa dan kebijaksanaan dalam menyikapi setiap masalah yang menimpa.
Kebaikan adalah hal yang pasti di dunia ini. Bahkan setiap musibah yang menimpa ada kebaikan di sana, setidaknya menghapus dosa-dosa yang kita lakukan. Jadi bersyukurlah jika mendapat ujian dan menangislah jika hidupmu baik-baik saja, layaknya para sahabat terdahulu.
______________
Sahabat! Dunia ini fana dan sangat singkat. Demikian juga semua hal yang berada di atasnya, fana. Kesedihan itu fana. Kegembiraan itu fana. Dan raga ini fana kawan, yang kekal adalah ruh yang mengendarai raga.
Seperti kata Buya Hamka, “kehidupan di dunia ini hanya khayal, dan kehidupan sejati adalah hidup setelah kematian (akhirat)”. Jadi layaknya dalam khayalan, ketika sedih, mundurlah sejanak dan aktifkan alam bawah sadar dan bawa ia ke area kegembiraan yang terdapat dalam kedalaman jiwa. Jika mengambil istilah Anis Matta “Siasat Pengalihan”.
Sakit hati itu fana. Maka jangan karena sakit sehingga kau membenci orang yang telah menyakitimu. Bangkitlah dan jadikan kesedihan, sakit hati, serta perasaan pilu lainya takluk. Seperti sang Nabi, ketika sedih ia tidak berlarut karena ada Tuhan yang Maha Cinta, Tuhan yang selalu mengadahkan ‘Tangan-Nya” untuk mendengar curahan hati hamba-hamba-Nya. Tuhan, “jika kau mendekati Dia dengan berjalan, Dia akan datang kepadamu dengan berlari” begitu yang digambarkan dalam hadis riwayat Muslim.
___________
Kita bukanlah Muhammad yang mempunyai kebesaran jiwa seperti yang dianugerahkan kepadanya, kita tetaplah manusia biasa yang tidak lepas dari kesalahan dan kekurangan. Tapi sahabatku, teruslah berdoa semoga kita dimampukan untuk bersabar di atas semua cobaan yang menimpa.
_____________

Aku Wanitamu yang Tunduk Pada Masa Lalumu


Aku harus tunduk pada masa lalumu
Terdiam dalam deraan serpihannya 
Menunggu dan bertahan... 
Hingga hujan menyapu semuanya

Namun aku tetaplah manusia
Hanya mampu membungkus harap dalam doa
Pada pertemuan berikutnya
Pada kisah panjang hingga akhir waktu
Yang semoga tetap terjaga pada aku dan kamu

(Alya Enezz)

Isyarat Harapan


Tetaplah di tempat
Biarkan isyarat-isyarat rumit menapakkan jejak tanpa suara
Dan terkunci dalam rongga beraroma harap 
Tetaplah tinggal wahai kau separuh rasaku
Jangan berpaling atau menepi
Hingga waktu tiba pada kita
Merayakan senyapnya jarak
Sebagai jawaban indahnya sebongkah harap berbungkus doa


(Alya Enezz)

Rindu yang Tertahan



Aku seperti pohon tak berdaun tertiup angin 
Dingin menusuk ulu hati
Menggigil gersang dan membeku
Berharap langit memuntahkan air dan membasuh jantung
Namun hanya keheningan mampu membawa rindu
Menjelajahi pekatnya malam


(Alya Enezz)

Selasa, 20 Februari 2018

Upgrading Status Iman



SAAT ini, masalah-masalah besar silih berganti menimpa bangsa. Penegakan hukum yang tidak adil, kesenjangan kehidupan kaya-miskin, korupsi dan lain sebagainya adalah sedikit contoh dari banyak fenomena bahwa bangsa ini sedang dilanda masalah-masalah besar. Namun, dibalik pekatnya malam ada semburat cahaya fajar yang membawa kedamaian dan kesejahteraan.
Berangkat dari kisah Asy-Syaikh Muhammad Mutawalli As-Sya’rawi ahli tafsir asal Mesir ketika berkunjung ke Francisco. Seseorang bertanya kepadanya, jika kebenaran Al-Qur’an itu absolut dan Allah pasti memenangkan orang beriman dan menolongnya, lalu kenapa saat ini umat Islam lemah dari semua lini?
Syaikh menjawab dengan sigap, menurutnya, karena saat ini umat Islam baru berislam belum beriman. Inilah masalah dasarnya. Orang yang masih berislam itu merasa puas dengan shalat, zakat, puasa, dan haji serta merasa tidak perlu lagi untuk mengerjakan kebaikan yang berkaitan dengan umat. Di sinilah letak perbedaannya, orang beriman tidak merasa cukup dengan zakat saja tapi akan bersedekah dan berinfak. Orang beriman tidak merasa cukup hanya dengan shalat lima waktu, tapi akan menghidupkan shalat sunnah utamanya shalat tahajjud. Artinya, orang berislam hanya memikirkan diri sendiri sementara orang beriman memikirkan masalah umat. Orang beriman akan terjung ke dunia politik, tentu dengan membawa panji Islam untuk memperbaiki carut-marut bangsa. Orang beriman akan memperbaiki ekonomi agar bisa membantu saudara-saudaranya.
Dalam hal ini, pemerintah cenderung membatasi, umat Islam cukup di masjid jangan dibawa ke politik dan ekonomi. Inilah salah satu penyebab lemahnya kualitas umat Islam, karena secara sistem dibatasi oleh penguasa. Seperti penjelasan Asy-Syaikh Muhammad Mutawalli As-Sya’rawi, ini juga yang menyebabkan umat Islam lemah secara politik, ekonomi, militer, dan sosial. Karena umumnya umat Islam merasa cukup di masjid dan memikirkan diri sendiri tanpa mau berfikir kebangkita umat. Padahal jika umat Islam Indonesia mau naik ke level beriman, maka kita akan menjadi bangsa yang maju dan besar.
Kemengan dan pertolongan Allah tergantung pada keimanan. Kemenangan itu akan semakin nyata jika orang Islam telah naik ke level beriman, tidak stagnan atau puas pada posisi berislam.
يَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ
Tangan Allah bersama Al Jama’ah. [HR. Tirmidzi].
Hal ini juga bisa dilihat dari ayat Allah yang memerintahkan kita untuk bersatu dan bersaudara. Dia menggunakan kata (الْمُؤْمِنُونَ) orang-orang yang beriman. Seperti yang termaktub dalam surat Al-Hujurat ayat 10.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. (QS. Al-Hujurat ayat 10)
Secara terminologi, jika kata mukmin berdiri sendiri dalam satu ayat maka termasuk di dalamnya muslim. Jika muslim disebutkan sendiri maka mukmin juga termasuk di dalamnya. Akan tetapi, jika disebutkan keduanya dalam satu ayat, terdapat pembedaan.
Level muslim itu, orang lain  akan merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Pada level ini sudah cukup membuat servive namun belum bisa untuk membuat perubahan dalam bernegara dan berbangsa. Orang mukmin, orang lain akan merasa aman harta dan kehormatannya dari gangguan dia. Maka hanya di tangan orang beriman bangsa ini akan bangkit dengan pertolongan Allah untuk mencapai kemenangan.
Seiring dengan adanya isu provokatif yang menimpa bangsa akhir-akhir ini, maka hanya orang yang telah naik tingkat yang mampu merubahnya.
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 139).
Tidak perlu merasa hina jika tidak diperlakukan secara adil oleh aparat yang berwajib. Misalnya dalam kasus ‘orang gila’ dan perusakan gerfeja. Saat ulama dikriminalisasi pihak berwajib tidak turun. Namun jika gereja disenggol sedikit saja maka semua muncul kepermukaan untuk membela. Cukup mengambil pelajaran saja, bahwa Allah ingin memisah orang munafik di tengah umat ini dan mengangkat derajat orang beriman. Dari orang berimanlah yang akan dipilih oleh Allah sebagai tokoh  kebangkitan Islam di Indonesia, bahkan di dunia.
Lalu bagaimana sebenarnya orang bebriman itu? Allah telah menjelaskan dalam banyak ayat. Misalnya dalam surat Al Hujurat ayat 14. Dalam ayat ini, jika dikaitkan dalam konteks keindonesiaan, maka secara halus telah menggambarkan kualitas orang Islam di sisi Allah.
قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي
قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al Hujurat: 14)
Suatu ketika pada zaman Rasulullah SAW, orang badui menemui beliau dan mengaku telah beriman. Tapi “Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’.
Orang yang hanya merasa beriman, tidak akan mebawa perubahan. Maka status a’rabii ini harus diupgrad menjadi beriman. Iman belum merasuk ke dalam hati mereka, masih sebatas jenggot, jubbah, dan sorban. Dengan upgrading status dari berislam menjadi beriman, kualitas umat Islam Indonesia akan berbanding dengan kuantitas. Hal ini juga yang akan menjadi solusi dari carut-marut bangsa. Keimanan itu dibuktikan dengan taat kepada Allah dan Rasul-Nya, lalu mengikuti perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Ciri-ciri orang beriman juga telah disebutkan dalam surat Al Anfal ayat 2-4. Allah Swt. berfirman:
Langkah kedua jika ingin upreding iman naik terdapat dalam surah Al Anfal ayat 2
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ.الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ. أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia. (QS. Al Anfal: 2-4).
Ada empat poin yang bisa diambil dari ayat ini, yakni orang beriman itu jika disebut nama Allah maka gemetarlah hati mereka, jika dibacakan ayat-ayat Allah maka bertambahlah iman mereka, dengan demikian mereka juga akan bertawakal kepada Allah Swt.. Kemudian amalan hati ini akan dibuktikan dengan shalat, tidak hanya shalat wajib tapi bersemangat melaksanakan yang sunnah, kemudian akan dibuktikan juga dengan banyak infak di jalan Allah Swt.
Orang beriman itu hatinya akan selalu terpaut dengan Allah Swt., tidak pernah lupa untuk berzikir dan bahkan di setiap aktivitasnya dia akan melibatkan Allah. Untuk itu, sebagai solusi yang paling tepat untuk masalah bangsa ini adalah dengan Upgrading Status dari Muslim ke Mukmin.
*MN

Nyanyian Pilu



Nyanyian hujan, menancap dan membelah. Perlahan menampar mesra asa ditengah hiruk-pikuk perkotaan dan menunduk melihat bayangan diri di bawah amukan cahaya. Batinku pilu, sebab keinginan dibelenggu fakta.
Seharusnya, fajar tadi kau sambut dengan tangis yang membuat kami bahagia. Seperti jua senja mengawal malam, lagi dan lagi gerak bibirmu masih dalam cita. Dan agaknya senyumu adalah kerinduan yang membisu.
Kilometer terbentang di sekujur tubuhku. Berdiri dengan semua keresahan, kerinduan, kekhawatiran, dan keinginan yang hanya mengejawantah dalam khayal.
Aku menantinya sebagai obat lara membuat tanganku redup dibawa tiupan angin semilir. Terkirim pesan singkat dari genggaman layarku, kabarmu masih dalam perawatan.
________
Jalanan yang ramai itu berubah jadi senyap. Tatapan kosong. Suaranya melayang, mengambang dalam cahaya bulan mencapai desa perbatasan. Menusuk lebih dalam ke tengah-tengah desa, memasuki balai desa.
اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah.
________
Muhajir/ 25 Januari 2018.

Kahlil Gibran : Cinta


kenapa kita menutup mata ketika kita tidur?
ketika kita menangis?
ketika kita membayangkan?
itu karena hal terindah di dunia tdk terlihat
ketika kita menemukan seseorang yang
keunikannya sejalan dengan kita, kita bergabung
dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan
serupa yang dinamakan cinta.
Ada hal2 yang tidak ingin kita lepaskan,
seseorang yang tidak ingin kita tinggalkan,
tapi melepaskan bukan akhir dari dunia,
melainkan suatu awal kehidupan baru,
kebahagiaan ada untuk mereka yang tersakiti,
mereka yang telah dan tengah mencari dan
mereka yang telah mencoba.
karena merekalah yang bisa menghargai betapa
pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan
mereka.
Cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu
menitikan air mata dan masih peduli terhadapnya,
adalah ketika dia tidak memperdulikanmu dan
kamu masih menunggunya dengan setia.
Adalah ketika di mulai mencintai orang lain dan
kamu masih bisa tersenyum dan berkata
” aku turut berbahagia untukmu ”
Apabila cinta tidak bertemu bebaskan dirimu,
biarkan hatimu kembalike alam bebas lagi.
kau mungkin menyadari, bahwa kamu menemukan
cinta dan kehilangannya, tapi ketika cinta itu mati
kamu tidak perlu mati bersama cinta itu.
Orang yang bahagia bukanlah mereka yang selalu
mendapatkan keinginannya, melainkan mereka
yang tetap bangkit ketika mereka jatuh, entah
bagaimana dalam perjalanan kehidupan.
kamu belajar lebih banyak tentang dirimu sendiri
dan menyadari bahwa penyesalan tidak
seharusnya ada, cintamu akan tetap di hatinya
sebagai penghargaan abadi atas pilihan2 hidup
yang telah kau buat.
Teman sejati, mengerti ketika kamu berkata ” aku
lupa ….”
menunggu selamanya ketika kamu berkata ”
tunggu sebentar ”
tetap tinggal ketika kamu berkata ” tinggalkan aku
sendiri ”
mebuka pintu meski kamu belum mengetuk dan
belum berkata ” bolehkah saya masuk ? ”
mencintai juga bukanlah bagaimana kamu
melupakan dia bila ia berbuat kesalahan,
melainkan bagaimana kamu memaafkan.
Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan,
melainkan bagaimana kamu mengerti.
bukanlah apa yang kamu lihat, melainkan apa
yang kamu rasa,
bukanlah bagaimana kamu melepaskan melainkan
bagaimana kamu bertahan.
Mungkin akan tiba saatnya di mana kamu harus
berhenti mencintai seseorang, bukan karena orang
itu berhenti mencintai kita melainkan karena kita
menyadari bahwa orang iu akan lebih berbahagia
apabila kita melepaskannya.
kadangkala, orang yang paling mencintaimu adalah
orang yang tak pernah menyatakan cinta
kepadamu, karena takut kau berpaling dan
memberi jarak, dan bila suatu saat pergi, kau akan
menyadari bahwa dia adalah cinta yang tak kau
sadari

Pembagian Otak dalam Perspektif Al-Qur’an


Dalam dunia ilmu pengetahuan otak dibagi menjadi dua bagian, yaitu otak kanan dan otak kiri, bahkan ada juga yang mengatakan ada otak tengah. Namun, ternyata al-Qur’an sudah terlebih dahulu berbicara tentang pembagian otak ini. kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallohu alaihi wa sallam itu membagi otak menjadi dua bagian juga, yaitu otak depan (Naasiatun) dan otak belakang (qafiatun).
كَلَّا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ.نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ
Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. (QS. Al-Alaq: 15-16)
Orang yang mengedepankan korteks (otak depan) dalam mengambil keputusan dan dalam bertindak pasti tidak pengaruh zikir dan ibadah lainnya tidak berpengaruh baginya, dia lebih rasional dalam memutuskan sesuatu. Misalnya dalam bersedekah, sangat materialis dan tidak percaya akan keberkahan dibalik sedekah itu. Hal itu didasari karena memang sifat otak depan itu naasiatin kaazibatin khaatiatin, (QS. Al-Alaq: 16). Sehingga tidak heran jika mendustakan dan mendurhakai hal-hal yang bersifat ghaib atau tidak rasional. Orang yang mengedepankan rasio (otak depan) dalam bertindak anti memakai agama dalam perkara politi, ekonomi, hukum, dan lainnya. selain mendustakan terlalu mengedepankan otak depan juga cenderung salah dan sangat rentang terjerumus dalam dosa (khaatiatun).
Jika otak depan kembali kepada manusianya maka setan bermain di otak belakang. Setan terfokus di otak belakang (qaafiatun)untuk menyesatkan manusia. diceritakan dalam hadis bahwa setiap hari setan membuat ikatan-ikatan (uqdatun).
َمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ
dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, (QS. Al-Falaq: 4)
Kata-kata uqad ini terdapat dalam surat al-Falaq sepeti yang disebutkan di atas. Dalam tafsirnya uqad itu diartikan sebagai tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Akan tetapi setan bekerja setiap hari mengikat tiga ikatan di otak belakang. Dari ribuan syaraf otak manusia itu ada spot ketuhanan atau syaraf-syaraf yang bisa membuat manusia mendeteksi keberadaan Tuhan, dan itulah yang diikat oleh setan setiap harinya agar melalaikan Tuhannya. Makanya kita diminta untuk berlindung pada kejahatan uqad itu dalam surat al-Falaq dan Rasul juga menganjurkan untuk memnacanya sebelum tidur, di pagi hari, sore hari dan setiap selesai shalat fardhu. Tujuan anjuran itu agar Allah melindungi kita dan melepaskan ikatan-ikatan setan itu.
Coba kita bayangkan jika Allah tidak melindungi dan membukakan ikatan-ikatan itu. Jika tiga ikatan setiap hari, lalu berapa ikatan jika umur kita sudah 20 tahun? 20 tahun x 3 ikatan = 60, kemudian 60 x 365 hari = 21.900 ikatan. Inilah yang membuat otak-otak manusia tidak bisa mendeteksi keberadaan Tuhan jika tidak pernah meminta perlindungan kepada-Nya. Jika anak-anak tidak diajarakan agama, tidak diajarkan untuk berzikir, dan tidak diajarkan hakikat-hakikat kehidupan dengan sudut pandang agama, maka sudah 21.900 ikatan yang tidak terlepas di otak belakang itu dalam tempo umur 20 tahun. Jika sekarang umur sudah 50 tahun, 60, tahun, atau 70 tahun tapi tidak pernah meminta perlindungan untuk dilepaskan ikatan-ikatan itu maka sudah berapa ikatan di otak belakang kita?
Maka timbullah pertanyaan tentang Bagaimana cara melepaskan ikatan-ikatan tersebut? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
 “Ketika kalian tidur, syetan membuat tiga ikatan di tengkuk kalian. Di setiap ikatan setan akan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berdzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika ia berwudhu, lepas lagi satu ikatan berikutnya. Kemudian jika ia mengerjakan shalat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, jiwanya jadi kotor dan malas.” (HR. Al Bukhari)
Sebagai kesimpulan, sebelum mengambil keputusan bersujudlah terlebih dahulu kepada Allah. Jika perlu sebelum mengambil keputusan berwudhu, berzikir lalu shalatlah terlebih dahulu sehingga lepas ikatan di qaafiyah itu, sehingga cemerlanglah keputusan yang kita ambil dan supaya tidak selalu salah dalam mengikuti korteks (otak depan). *dinukil dari tadabbur selasa pagi di Masjid Raya Pondok Indah, Jakarta Selatan, 3 oktober 2017
*Muhajir

Maraknya Kriminalisasi Ulama, Bagaimana Sikap Kita?




AKHIR-akhir ini jagat media dihebohkan oleh isu “orang gila” yang menyerang ulama. Lantas bagaimana sikap orang muslim dalam menyikapi peristiwa ini?

Pimpinan AQL Islamic Center, KH Bachtiar Nasir, dalam khutbah Jum’at (16/2) menjelaskan bagaimana seharusnya seorang muslim menanggapi hal ini.

Menurut beliau, tidak perlu bersedih jika ada perbedaan perlakuan oleh pihak berwajib. Beliau mengangkat sebuah ayat yang menjelaskan bagaimana sikap kita sebagai umat terbaik yang diorbitkan di atas panggung eksistensi.

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 139).

“Jangan merasa rendah, hina di hadapan siapapun, dan jangan merasa cemas karena densus 88 tidak turun” tegasnya.

Sekjen MIUMI  ini melanjutkan, tidak usah berkecil hati jika ulama dikriminalisasi sementara pihak berwajib diam. Sedangkan jika gereja diserang semua muncul ke permukaan. Umat Islam adalah pelindung Indonesia dan wajib melindungi kedaulatan bangsa. Sebab ini adalah amanah dari pendiri bangsa.

وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ

“kamu yang akan menjadi pelindung Indonesia. Kamu orang mukmin yang akan melindungi TNI dan POLRI. Kamu yang akan menjaga kedaulatan Indonesia”, jelasnya.

إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Tidak perlu mengemis kepada mahluk jika benar-benar beriman kepada Allah.” sambungnya.

Ulama jebolan Universitas Islam Madinah ini kemudian mengajak umat untuk introspeksi diri, bahwa kenapa umat Islam belum bisa berperan sesuai dengan kuantitasnya. Karena saat ini masih dalam tahap berislam belum beriman.

Seperti dikutip dalam kajian Majelis Tadabbur Asmaul Husna Di Masjid Al Falah, Cipayung, Jakarta Timur, (17/2). Perbedaan berislam dan beriman itu terletak pada pengamalannya terhadap syariat Islam.

Orang yang masih berislam merasa sudah cukup jika sudah shalat, berzakat, puasa, dan haji. Tapi orang beriman tidak hanya cukup dengan itu, ia akan berinfak, mengamalkan politik Islam untuk memperbaiki carut-marut bangsa.

“Karpet Masjid ditentukan oleh politik dan hukum, jadi kalau kita tidak mau terjung ke dunia politik kita akan terus menjadi subjek. Tentu dengan membawa Panji Islam”, tegasnya.

Selama ini, penguasa juga menggemborkan agar umat Islam cukup berislam saja, tidak perlu naik kelas menjadi beriman. Artinya, Islam itu di masjid tidak perlu dibawa ke politik dan ekonomi.

“Untuk itu, sudah saatnya kita naik kelas menjadi orang beriman, tidak stagnan di kelas berislam.” pungkasnya.
Penulis: MN
Editor : Embe Setiawan

Ibu, Jiwaku Pilu

Desah nadiku adalah kerinduan, ketika detik memutar rasa tentang ribuan kilometer dalam dekapan. Ibunda....... Fikirku fatamorgana da...